Jejak-jejak masih tampak di tanah basah bekas hujan kemarin.
Jejak tumbuh tunas yang akhirnya layu setelah berumur beberapa hari.
Singa penjaga menguburkannya di mausoleum belakang taman,
romannya syahdu, ia tersedu,
ia tahu tunas itu akan tumbuh, tapi ditempat lain, bukan disini.
Sebentar ia melirik nisan, mendoakan,
kemudian kembali menjaga gerbang: melindungi taman dari ancaman hama, tiupan taifun, atau kering kemarau.

Tentu jejak takkan terhapus begitu saja.
Ia hanya berharap sederhana,
bahwa angin akan meniupkan benih lagi kesana.
Ia akan jaga baik, agar tumbuh pohon rindang.
peneduh yang nyaman di hari-hari yang tak tentu panas dan hujan.

Tagged with:
 

5 Responses to jejak

  1. ewindewinda mengatakan:

    tunas itu akan tumbuh; ditempat yang akan menumbuhkannya. dan yang akan tumbuh ditanahmu tentulah yang bisa tumbuh denganmu::

  2. naota mengatakan:

    nip disini ga ada fasilitas nge-like ya?? abisan mo komen jg bingung…pokonya u r rooock dah, the next ‘Taufiq Ismail’ generation :D gud dude!!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>